Nabi Musa AS diutus
untuk berdakwah di negeri Mesir, dan mengajak Bani Israil menyembah Allah SWT.
Musa dan Harun adalah keturunan ke-4 dari Nabi Ya'qub AS yang tinggal di Mesir
sejak Nabi Yusuf berkuasa disana.
Mesir saat itu
dikuasai oleh Fir'aun. Penduduknya terdiri dari 2 bangsa, yaitu penduduk asli
Mesir yang disebut sebagai orang Qubti, dan orang Israil, yaitu keturunan Nabi
Ya'qub AS.
Kebanyakan orang Qubti menduduki jabatan-jabatan tinggi, sedang orang Israil hanya berkedudukan rendah, seperti buruh, pelayan dan pesuruh.
Kebanyakan orang Qubti menduduki jabatan-jabatan tinggi, sedang orang Israil hanya berkedudukan rendah, seperti buruh, pelayan dan pesuruh.
Firaun memerintah
dengan tangan besi. Ia diktator bengis yang tidak berperi kemanusiaan. Mabuk
dan rakus kekuasaan, sampai-sampai ia berani menyebut dirinya sebagai Tuhan.
Kekejaman Fir'aun
membunuh bayi laki-laki
Suatu ketika, Fir'aun bermimpi, yang oleh dukun peramalnya mimpi itu diartikan dengan akan lahirnya seorang bayi laki-laki dari Bani Israil yang akan merampas kekuasaan raja. Seketika itu Fir'aun menginstruksikan seluruh pasukannya untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir.
Suatu ketika, Fir'aun bermimpi, yang oleh dukun peramalnya mimpi itu diartikan dengan akan lahirnya seorang bayi laki-laki dari Bani Israil yang akan merampas kekuasaan raja. Seketika itu Fir'aun menginstruksikan seluruh pasukannya untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir.
Ibu Musa, Yukabad,
istri Imron bin Qahat bin Lewi bin Ya'qub AS, merasa sangat gelisah karena
begitu ketatnya penyelidikan para petugas. Suatu ketika ibu Musa mendapat
petunjuk melalui mimpinya agar anaknya yang berusia 3 bulan dimasukkan ke dalam
kotak lalu dihanyutkan ke sungai Nil. Allah SWT menjamin bahwa bayinya pasti
akan selamat, bahkan Yukabad kelak tetap akan dapat merawatnya.
Isyarat itu
dilaksanakan dengan penuh ketabahan dan tawakal. Kakak Musa diperintahkan untuk
mengikuti kemana peti itu hanyut dan di tangan siapakah Musa nanti ditemukan.
Kotak yang berisi bayi itu tiba-tiba tersangkut di pohon dan berhenti di
belakang rumah Fir'aun. Puteri Fir'aun menemukan peti tsb, dan ia adalah
seorang yang berpenyakit belang. Ketika menyentuh Musa, mendadak penyakitnya
sembuh. Dengan perasaan gembira ia membawa peti itu kepada Asiah, istri
Fir'aun, dan memberitahu apa yang telah terjadi. Asiah mengambil bayi itu dan
berniat untuk memeliharanya.
Asiah adalah seorang
yang beriman kepada Allah SWT. Namun lantaran takut oleh kekejaman Fir'aun, ia
menyembunyikan keimanannya. Ketika itu Fir'aun mendengar adanya wanita cantik
bernama Asiah, dan ia pun menikahinya. Namun tatkala ia hendak menggauli
istrinya itu, seluruh badannya tiba-tiba menjadi kaku sehingga ia pun tidak
bisa mendekatinya, hanya bisa memandangnya.
Fir'aun merasa curiga
terhadap bayi yang ditemukan istrinya, tetapi Asiah tetap bersikeras untuk
memeliharanya karena ia sudah lama mendambakan anak. Bayi itu oleh Asiah diberi
nama Musa, yang artinya air dan pohon (mu = air, sa = pohon).
di antara sejumlah
inang pengasuh pilihan Asiah, bayi Musa hanya mau menyusu pada Yukabad,
sehingga Asiah akhirnya menerima Yukabad sebagai inang pengasuh Musa. Dengan
demikian janji Allah SWT bahwa Yukabad tetap akan mendapatkan kembali bayinya
terpenuhi.
Kisah ini dapat ditemui dalam surat Al-Qasas: 4-13.
Kisah ini dapat ditemui dalam surat Al-Qasas: 4-13.
Musa meninggalkan
Mesir
Setelah selesai masa penyusuan bersama ibunya, Musa dikembalikan lagi ke istana Fir'aun. Ia dipelihara sebagaimana anak-anak raja yang lain. Berpakaian seperti Fir'aun, mengendarai kendaraan Fir'aun, sehingga ia dikenal sebagai Pangeran Musa bin Fir'aun.
Setelah selesai masa penyusuan bersama ibunya, Musa dikembalikan lagi ke istana Fir'aun. Ia dipelihara sebagaimana anak-anak raja yang lain. Berpakaian seperti Fir'aun, mengendarai kendaraan Fir'aun, sehingga ia dikenal sebagai Pangeran Musa bin Fir'aun.
Walaupun dididik
dalam tradisi istana, sejak kecil Musa memahami bahwa ia bukan anak Fir'aun
melainkan keturunan Bani Israil yang tertindas. Karena prihatin terhadap nasib
rakyat yang dianiaya oleh keluarga raja dan para pembesar kerajaan, Musa
bertekad untuk membela kaumnya yang lemah.
Suatu saat tindakan
Musa membela seorang anggota kaumnya yang berkelahi melawan seorang dari
golongan Fir'aun menyebabkan yang terakhir ini tewas. Seorang saksi yang
melihat kejadian itu lalu melaporkan pada Fir'aun. Mengetahui bahwa Musa
membela orang Israil, Fir'aun segera memerintahkan orang untuk menangkap Musa.
Akhirnya Musa melarikan diri dan memutuskan untuk meninggalkan Mesir. Ia
bertaubat dan memohon ampun kepada Allah. Saat itu ia berusia 18 tahun.
Kisah ini terdapat dalam surat Al-Qasas: 14-21.
Kisah ini terdapat dalam surat Al-Qasas: 14-21.
Musa pergi ke Madyan,
kota tempat tinggal Nabi Syu'aib AS. Dari Mesir ke Madyan harus ditempuh
berjalan kaki selama 8 hari. Karena kelelahan dan merasa lapar, Musa
beristirahat di bawah pepohonan. Tak jauh dari tempatnya beristirahat, ia
melihat dua orang gadis berusaha berebut untuk mendapatkan air di sumur guna
memberi minum ternak yang mereka gembalakan. Kedua gadis itu berebutan dengan
sekelompok pria-pria kasar yang tampak tidak mau mengalah.
Melihat itu, Musa segera bergerak menolong kedua gadis tsb. Laki-laki kasar tadi mencoba melawan Musa, tapi Musa dapat mengalahkan mereka.
Melihat itu, Musa segera bergerak menolong kedua gadis tsb. Laki-laki kasar tadi mencoba melawan Musa, tapi Musa dapat mengalahkan mereka.
Musa menikah
Kedua gadis ini tak lain adalah putri-putri Nabi Syu'aib AS. Mereka lalu melaporkan kejadian yang telah dialami bersama Musa kepada ayah mereka. Syu'aib lalu menyuruh kedua putrinya untuk mengundang Musa datang ke rumah mereka.
Kedua gadis ini tak lain adalah putri-putri Nabi Syu'aib AS. Mereka lalu melaporkan kejadian yang telah dialami bersama Musa kepada ayah mereka. Syu'aib lalu menyuruh kedua putrinya untuk mengundang Musa datang ke rumah mereka.
Musa memenuhi
undangan itu. Keluarga Syu'aib sangat senang melihat Musa. Sikapnya sopan dan
tampak sekali ia seorang pemuda bermartabat dari kalangan bangsawan. Kepada
Syu'aib, Musa menceritakan peristiwa pembunuhan yang telah dilakukannya, yang
menyebabkan ia terusir dari Mesir. Syu'aib menyarankan agar ia tetap tinggal di
rumahnya agar terhindar dari kejaran orang-orang Fir'aun.
Syu'aib bermaksud
menikahkan Musa dengan salah seorang putrinya. Sebagai syarat mas kawin, Musa
diminta bekerja menggembalakan ternak-ternak milik Nabi Syu'aib selama 8 tahun.
Musa menyanggupi syarat tsb, bahkan ia menggenapkan masa kerjanya menjadi 10
tahun. Ia menjalani pekerjaannya dengan sabar. Selama itu, nampaklah oleh
keluarga Syu'aib bahwa Musa adalah pemuda yang kuat, perkasa, jujur dan dapat
diandalkan. Tak salah jika Nabi Syu'aib mengambilnya sebagai menantu.
Musa sangat bahagia hidup bersama istrinya. Nabi Syu'aib juga lega karena anaknya mendapat pelindung yang dapat dipercaya.
Musa sangat bahagia hidup bersama istrinya. Nabi Syu'aib juga lega karena anaknya mendapat pelindung yang dapat dipercaya.
Kisah tentang hal ini
terdapat dalam surat Al-Qasas: 22-28.
Musa kembali ke Mesir
Sepuluh tahun setelah meninggalkan Mesir, Musa berniat kembali ke sana bersama istrinya. Musa sadar, tidak mustahil bahwa orang-orang Mesir masih akan mencarinya, oleh sebab itu ia dan istrinya tidak berani melalui jalan biasa melainkan memilih jalan memutar.
Sepuluh tahun setelah meninggalkan Mesir, Musa berniat kembali ke sana bersama istrinya. Musa sadar, tidak mustahil bahwa orang-orang Mesir masih akan mencarinya, oleh sebab itu ia dan istrinya tidak berani melalui jalan biasa melainkan memilih jalan memutar.
Sampai suatu malam,
mereka tersesat tak tahu arah mana yang harus ditempuh untuk meneruskan
perjalanan ke Mesir. Saat itulah Musa melihat ada cahaya api terang benderang
di atas sebuah bukit. Musa berkata kepada istrinya, "Tunggu disini, aku
akan mengambil api itu untuk menerangi jalan kita."
Tatkala Musa menghampiri api tsb, tiba-tiba terdengar suara menyeru, "Hai Musa! Aku ini adalah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu. Sesungguhnya kamu berada di lembah suci Thuwa. Dan aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah. Tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku, dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku."
Tatkala Musa menghampiri api tsb, tiba-tiba terdengar suara menyeru, "Hai Musa! Aku ini adalah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu. Sesungguhnya kamu berada di lembah suci Thuwa. Dan aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah. Tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku, dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku."
Inilah wahyu pertama
yang diterima langsung oleh Nabi Musa AS. Dengan diterimanya wahyu ini, maka
Musa telah diangkat sebagai Nabi dan Rasul. Sebagai rasul, Allah SWT memberinya
mukjizat berupa tongkat yang bisa berubah menjadi ular dan tangannya yang dapat
bersinar putih cemerlang setelah dikepitkan di ketiaknya.
Kisah ini dapat dilihat pada surat Tâhâ: 9-23.
Kisah ini dapat dilihat pada surat Tâhâ: 9-23.
Allah SWT
memerintahkan Nabi Musa AS untuk berdakwah kepada Fir'aun. Musa masih merasa
takut karena dulu ia pernah membunuh orang Mesir, namun Allah menjanjikan
perlindungan untuknya, maka tentramlah hatinya. Untuk lebih memantapkan
dakwahnya, Musa memohon kepada Allah agar ia ditemani oleh Harun, saudaranya,
karena Harun amat cakap dalam berbicara dan berdebat. Permintaan Musa
dikabulkan. Harun yang masih berada di Mesir digerakkan hatinya oleh Allah
sehingga ia berjalan menemui Musa.
Hal tsb dinyatakan
dalam surat Al-Qasas: 32-35 dan surat Tâhâ: 42-47.
Akhirnya bersama-sama
Harun, Musa menghadap Fir'aun. Ia mengadakan dialog dengan Fir'aun tentang
Tuhan. Namun Fir'aun menanggapinya dengan sinis dan mengejek Musa tak tahu
diri. Dulu ia diasuh dan dibesarkan di istana Mesir, tapi kini ia malah
berbalik menentang Fir'aun. Musa menjawab bahwa semua itu terjadi disebabkan
karena ulah Fir'aun sendiri. Seandainya Fir'aun tidak memerintahkan membunuh
bayi laki-laki, tidak mungkin ia dihanyutkan di sungai Nil sampai akhirnya
ditemukan dan diangkat anak oleh istri Fir'aun. Musa tidak merasa berhutang
budi pada Fir'aun.
Musa mengatakan bahwa
sesungguhnya Fir'aun bukanlah Tuhan. Ada Tuhan lain yang berhak disembah, Tuhan
nenek moyang mereka, Tuhan seluruh alam semesta. Fir'aun sangat murka dan
meminta Musa untuk menunjukkan tanda-tanda kebesaran Tuhan.
Keberhasilan Musa
melawan ahli-ahli sihir Fir'aun
Di depan masyarakat luas, Nabi Musa AS dapat menunjukkan mukjizatnya menghadapi ahli-ahli sihir Fir'aun. Musa mempersilakan ahli-ahli sihir Fir'aun untuk mempertunjukkan kebolehan mereka lebih dulu. Mereka lalu melemparkan tali dan tongkat-tongkatnya. Tak lama kemudian tali-tali dan tongkat-tongkat itu berubah menjadi ular yang ribuan ekor banyaknya. Fir'aun tertawa bangga menyaksikan kebolehan para ahli sihirnya. Masyarakat yang hadir disana juga terkagum-kagum.
Di depan masyarakat luas, Nabi Musa AS dapat menunjukkan mukjizatnya menghadapi ahli-ahli sihir Fir'aun. Musa mempersilakan ahli-ahli sihir Fir'aun untuk mempertunjukkan kebolehan mereka lebih dulu. Mereka lalu melemparkan tali dan tongkat-tongkatnya. Tak lama kemudian tali-tali dan tongkat-tongkat itu berubah menjadi ular yang ribuan ekor banyaknya. Fir'aun tertawa bangga menyaksikan kebolehan para ahli sihirnya. Masyarakat yang hadir disana juga terkagum-kagum.
Dengan tenang Musa
melemparkan tongkatnya, tongkat itu segera berubah menjadi ular yang sangat
besar dan langsung melahap ular-ular para ahli sihir Fir'aun. Dalam waktu
singkat, ular-ular itu habis ditelan oleh ular Nabi Musa.
Para ahli sihir itu
terbelalak heran. Apa yang diperlihatkan Musa bukanlah seperti sihir yang
mereka pelajari dari syaitan. Sadar akan hal itu, para ahli sihir tsb berlutut
kepada Musa, dan menyatakan diri sebagai pengikut ajaran yang dibawanya. Mereka
bertaubat dan hanya akan menyembah Allah saja.
Kisah ini dijelaskan dalam surat Asy-Syu'arâ': 18-51
Kisah ini dijelaskan dalam surat Asy-Syu'arâ': 18-51
Fir'aun sangat murka
melihat pembelotan para ahli sihir yang telah bertaubat itu. Ia mengancam akan
menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat kejam, namun para ahli sihir itu
tetap memilih menjadi pengikut Musa. Akhirnya Fir'aun memerintahkan untuk
memotong tangan dan kaki mereka, serta menyalib mereka di batang pohon kurma.
Mereka pun menerimanya dengan sabar dan tetap beriman kepada Allah. Jumlah
mereka saat itu 70 orang.
Azab bagi Fir'aun dan
pengikutnya
Kejengkelan Fir'aun memuncak setelah Nabi Musa AS memperoleh pengikut yang lebih banyak. Fir'aun menjadi semakin kejam terhadap Bani Israil. Nabi Musa AS senantiasa menyuruh kaumnya untuk bersabar menghadapi kesewenang-wenangan Fir'aun. Fir'aun pun tak henti-hentinya mengejek dan menghina Musa.
Kejengkelan Fir'aun memuncak setelah Nabi Musa AS memperoleh pengikut yang lebih banyak. Fir'aun menjadi semakin kejam terhadap Bani Israil. Nabi Musa AS senantiasa menyuruh kaumnya untuk bersabar menghadapi kesewenang-wenangan Fir'aun. Fir'aun pun tak henti-hentinya mengejek dan menghina Musa.
Karena semakin lama
tindakan Fir'aun makin merajalela, Nabi Musa AS berdoa kepada Allah SWT agar
Fir'aun dan pengikutnya diberi azab. Allah SWT mengabulkan doa Musa. Kerajaan
Fir'aun dilanda krisis keuangan. Selain itu wilayah Mesir dilanda kemarau
panjang. Banyak panen yang gagal, tanaman dan pepohonan banyak yang mati,
disusul badai topan yang merobohkan rumah-rumah mereka. Jutaan belalang
berdatangan menyerbu hewan dan perkebunan, juga kutu dan katak. Setelah
kemarau, muncul banjir besar. Akibat banjir itu kemudian juga muncul wabah
penyakit. Anak laki-laki bangsa Mesir mendadak mati, tak terkecuali anak-anak
Fir'aun sendiri, termasuk putra mahkota.
Pengikut Fir'aun
mendatangi Nabi Musa AS untuk memohon agar azab itu dicabut dari mereka dengan
janji mereka akan beriman. Namun ketika Allah SWT mengabulkan permintaan itu,
mereka ingkar terhadap janjinya.
Riwayat ini terdapat dalam surat Al-Mu'minûn: 26, Az-Zukhruf: 51-54, Yûnus: 88-89, dan Al-A'râf: 130-135.
Riwayat ini terdapat dalam surat Al-Mu'minûn: 26, Az-Zukhruf: 51-54, Yûnus: 88-89, dan Al-A'râf: 130-135.
Peristiwa Laut Merah
terbelah
Bani Israil yang makin menderita karena ulah Fir'aun dan pengikutnya meminta Nabi Musa AS untuk membawa mereka keluar dari Mesir. Setelah mendapat wahyu dari Allah agar mengajak kaumnya pergi meninggalkan Mesir, Musa lalu membawa kaumnya ke Baitulmakdis. Mereka pergi secara diam-diam di malam hari. Ketika sampai di tepi Laut Merah, mereka baru menyadari bahwa tentara Fir'aun mengejar mereka. Para pengikut Musa sangat panik karena tidak bisa lari kemana pun. Saat itulah turun wahyu agar Musa memukulkan tongkatnya ke laut. Laut pun membelah hingga terbentang jalan bagi Musa dan pengikutnya untuk menyeberang. Fir'aun dan tentaranya mengejar rombongan itu, namun ketika Musa dan pengikutnya telah sampai di tepi sementara Fir'aun dan tentaranya masih di tengah laut, atas perintah Allah laut pun kembali menutup hingga Fir'aun dan pasukannya tenggelam.
Bani Israil yang makin menderita karena ulah Fir'aun dan pengikutnya meminta Nabi Musa AS untuk membawa mereka keluar dari Mesir. Setelah mendapat wahyu dari Allah agar mengajak kaumnya pergi meninggalkan Mesir, Musa lalu membawa kaumnya ke Baitulmakdis. Mereka pergi secara diam-diam di malam hari. Ketika sampai di tepi Laut Merah, mereka baru menyadari bahwa tentara Fir'aun mengejar mereka. Para pengikut Musa sangat panik karena tidak bisa lari kemana pun. Saat itulah turun wahyu agar Musa memukulkan tongkatnya ke laut. Laut pun membelah hingga terbentang jalan bagi Musa dan pengikutnya untuk menyeberang. Fir'aun dan tentaranya mengejar rombongan itu, namun ketika Musa dan pengikutnya telah sampai di tepi sementara Fir'aun dan tentaranya masih di tengah laut, atas perintah Allah laut pun kembali menutup hingga Fir'aun dan pasukannya tenggelam.
Di saat-saat terakhir
menjelang kematiannya, Fir'aun sempat bertaubat dan menyatakan diri beriman
kepada Allah. Namun taubat menjelang ajal yang dilakukan oleh Fir'aun itu sudah
terlambat dan tidak lagi diterima oleh Allah, sehingga matilah ia dalam keadaan
tetap kafir.
Kisah tentang ini
terdapat dalam surat Tâhâ: 77-79, Asy-Syu'arâ: 60-68, dan Yûnus: 90-92.
Ternyata, mayat
Fir'aun tetap utuh sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an surat Yûnus: 92,
sebagai tanda bagi umat yang kemudian. Ini telah terbukti dengan diketemukannya
mummi Fir'aun (Pharaoh) di Mesir pada abad ke-20 M.
Karunia bagi Bani
Israil
Dalam perjalanan ke Mesir, Bani Israil sangat manja. Saat mereka haus, Musa memukulkan tongkatnya ke batu. Dari batu tsb, memancarlah 12 mata air, sesuai dengan jumlah suku (sibith) Bani Israil, sehingga masing-masing suku memiliki mata air sendiri.
Di Gurun Sinai yang panas terik, tak ada rumah untuk dihuni, tak ada pohon untuk berteduh, maka Allah menaungi mereka dengan awan.
Ketika bekal makanan dan minuman mereka habis, mereka pun meminta Musa memohon pada Allah SWT agar diberikan makanan dan minuman, maka Allah menurunkan kepada mereka Manna dan Salwa. Manna adalah makanan yang turun dari udara seperti turunnya embun, turun di atas batu dan daun pohon. Rasanya manis seperti madu. Sedang Salwa adalah sejenis burung puyuh yang datang berbondong-bondong silih berganti sampai-sampai hampir menutupi bumi lantaran banyaknya.
Dalam perjalanan ke Mesir, Bani Israil sangat manja. Saat mereka haus, Musa memukulkan tongkatnya ke batu. Dari batu tsb, memancarlah 12 mata air, sesuai dengan jumlah suku (sibith) Bani Israil, sehingga masing-masing suku memiliki mata air sendiri.
Di Gurun Sinai yang panas terik, tak ada rumah untuk dihuni, tak ada pohon untuk berteduh, maka Allah menaungi mereka dengan awan.
Ketika bekal makanan dan minuman mereka habis, mereka pun meminta Musa memohon pada Allah SWT agar diberikan makanan dan minuman, maka Allah menurunkan kepada mereka Manna dan Salwa. Manna adalah makanan yang turun dari udara seperti turunnya embun, turun di atas batu dan daun pohon. Rasanya manis seperti madu. Sedang Salwa adalah sejenis burung puyuh yang datang berbondong-bondong silih berganti sampai-sampai hampir menutupi bumi lantaran banyaknya.
Mendapat karunia dan
rezki yang demikian melimpahnya dari Allah, Bani Israil bukannya bersyukur,
malah mereka meminta makanan dari jenis yang lain lagi. Disinilah mulai
terlihat betapa Bani Israil itu sangat kufur terhadap nikmat Allah.
Berbagai tuntutan dan
permintaan dari Bani Israil ini diceritakan dalam surat Al-A'râf: 160 dan
Al-Baqarah: 61.
Turunnya kitab Taurat
Setelah persoalan dengan Fir'aun selesai, Nabi Musa AS memohon untuk diberikan kitab suci sebagai pedoman. Allah SWT lalu memerintahkan Nabi Musa AS untuk berpuasa selama 30 hari dan pergi berkhalwat ke Bukit Thur Al-Aiman atau Thursina. Sebelum pergi, Musa meminta Harun menjadi wakilnya untuk mengurus kaumnya.
Setelah persoalan dengan Fir'aun selesai, Nabi Musa AS memohon untuk diberikan kitab suci sebagai pedoman. Allah SWT lalu memerintahkan Nabi Musa AS untuk berpuasa selama 30 hari dan pergi berkhalwat ke Bukit Thur Al-Aiman atau Thursina. Sebelum pergi, Musa meminta Harun menjadi wakilnya untuk mengurus kaumnya.
Setelah berpuasa
selama 30 hari, Allah memerintahkannya berpuasa 10 hari lagi untuk menggenapkan
ibadahnya menjadi 40 hari. Setelah itu Allah berbicara kepadanya dengan Kalam-Nya
yang Azali, sehingga Musa pun memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh
manusia lain.
Dalam kesempatan
bermunajat di Bukit Thursina ini, timbul kerinduan Musa untuk bertemu Allah
SWT. Ia pun meminta agar Allah SWT mengizinkan dirinya untuk melihat Zat-Nya.
Allah SWT mengatakan bahwa ia telah meminta sesuatu yang diluar kesanggupannya.
Allah SWT kemudian menyuruh Musa untuk melihat ke sebuah bukit. Allah akan
menampakkan wujudnya kepada bukit itu. Jika bukit itu tetap tegak berdiri, maka
Musa dapat melihat-Nya, namun jika bukit yang lebih besar darinya itu tak mampu
bertahan, maka lebih-lebih lagi dirinya. Ketika Musa mengarahkan pandangan ke
bukit tsb, seketika itu juga bukit itu hancur luluh. Melihat itu Musa merasa
terkejut dan ngeri, ia pun jatuh pingsan.
Setelah sadar, ia
bertasbih dan bertahmid seraya memohon ampun kepada Allah SWT atas
kelancangannya. Selanjutnya, Allah SWT memberikan kitab Taurat sebagai kitab
suci yang berupa kepingan-kepingan batu. Di dalamnya tertulis pedoman hidup dan
penuntun beribadah kepada Allah SWT.
Kisah munajat Nabi
Musa AS di Bukit Thursina ini diceritakan dalam surat Al-A'râf: 142-145.
Patung anak sapi
Sepeninggal Nabi Musa AS, Bani Israil dihasut oleh seorang munafik bernama Samiri. Karena keyakinan tauhid mereka yang memang belum terlalu tebal, dengan mudah mereka termakan hasutan Samiri. Bani Israil membuat patung anak sapi yang disembah sebagai tuhan mereka.
Sepeninggal Nabi Musa AS, Bani Israil dihasut oleh seorang munafik bernama Samiri. Karena keyakinan tauhid mereka yang memang belum terlalu tebal, dengan mudah mereka termakan hasutan Samiri. Bani Israil membuat patung anak sapi yang disembah sebagai tuhan mereka.
Sebelum pergi ke
bukit Thursina, Musa berkata kepada kaumnya bahwa ia akan meninggalkan mereka
tidak lebih dari 30 hari. Ketika Allah memerintahkannya untuk menambah
ibadahnya 10 hari lagi sehingga bertambah lama kepergiannya, maka mereka
menganggapnya telah melupakannya. Samiri mengatakan kepada Bani Israil bahwa
keterlambatan Musa ini disebabkan karena mereka telah membuat marah Tuhan
dengan mengambil perhiasan-perhiasan dari kuburan orang-orang Mesir. Maka untuk
meminta ampun kepada Tuhan dan agar Musa mau kembali pada mereka, mereka harus
melemparkan perhiasan-perhiasan tsb ke dalam api.
Mereka pun percaya
dengan hasutan Samiri. Para wanita-wanita Bani Israil lalu melemparkan
perhiasan-perhiasan emas mereka ke dalam api. Dari emas yang terkumpul itu
Samiri lalu membuat patung anak sapi. Dengan teknik khusus, ia membuat angin
bisa masuk dan menimbulkan suara dari mulut patung itu sehingga seolah-olah
patung itu dapat berbicara. Kemudian Samiri menyuruh Bani Israil untuk
menyembahnya.
Nabi Harun AS tidak
berdaya menghadapi kaumnya yang kembali murtad itu. Ketika Nabi Musa AS
kembali, ia sangat marah dan bersedih hati melihat perilaku kaumnya. Mula-mula
ia pun marah kepada Harun yang dianggapnya tidak bisa menjaga kaumnya dengan
baik, namun setelah mendengar penjelasan dari Harun, ia pun tenang kembali. Ia
mengusir Samiri dan menjelaskan pada kaumnya tentang perbuatan mereka yang
salah. Sebagai hukuman, Samiri diberi kutukan oleh Allah, jika ia disentuh atau
menyentuh manusia, maka badannya akan menjadi panas demam. Itulah azab Samiri
di dunia, seumur hidupnya ia tidak bisa berhubungan dengan siapa pun.
Setelah Samiri pergi,
Musa membakar patung anak sapi sembahan Bani Israil dan membuang abunya ke
laut. Allah SWT kemudian memerintahkan Musa AS agar membawa sekelompok kaumnya
untuk memohon ampun atas dosa mereka menyembah patung anak sapi. Musa mengajak
70 orang terpilih dari Bani Israil ke Bukit Thursina. Setelah mereka berpuasa
menyucikan diri, muncullah awan tebal di bukit itu. Nabi Musa AS dan
rombongannya memasuki awan gelap itu dan bersujud. Ketika bersujud, 70 orang
itu mendengar percakapan antara Nabi Musa AS dengan Allah SWT. Timbul keinginan
mereka untuk melihat Zat Allah. Bahkan mereka menyatakan tidak akan beriman
sebelum melihat-Nya. Seketika itu pula tubuh mereka tersambar halilintar hingga
mereka pun tewas.
Nabi Musa AS memohon
agar kaumnya diampuni dan dihidupkan kembali. Maka Allah SWT pun membangkitkan
kembali 70 orang pengikut Musa itu. Musa lalu menyuruh mereka bersumpah untuk
berpegang teguh pada kitab Taurat sebagai pedoman hidup, dan beriman kepada
Allah SWT.
Cerita ini terdapat dalam Al Qur'an surat Al-A'râf: 149-155 dan Al-Baqarah: 55, 56, 63, 64.
Cerita ini terdapat dalam Al Qur'an surat Al-A'râf: 149-155 dan Al-Baqarah: 55, 56, 63, 64.
Sapi Betina (Al
Baqarah)
Suatu hari terjadi peristiwa pembunuhan di antara kaum Nabi Musa. Untuk mengetahui siapa pembunuh orang tsb, atas petunjuk Allah SWT, Musa memerintahkan kaumnya untuk mencari seekor sapi betina. Dengan lidah sapi itu nantinya mayat yang terbunuh akan dipukul dan akan hidup lagi atas kehendak dan izin dari Allah SWT.
Suatu hari terjadi peristiwa pembunuhan di antara kaum Nabi Musa. Untuk mengetahui siapa pembunuh orang tsb, atas petunjuk Allah SWT, Musa memerintahkan kaumnya untuk mencari seekor sapi betina. Dengan lidah sapi itu nantinya mayat yang terbunuh akan dipukul dan akan hidup lagi atas kehendak dan izin dari Allah SWT.
Kaum Bani Israil
sebenarnya enggan melaksanakan perintah ini, karenanya mereka sangat cerewet
dan banyak bertanya dengan harapan supaya Allah SWT akhirnya membatalkannya,
sebagaimana dikisahkan dalam Al Qur'an surat Al-Baqarah: 67-71.
Dan (ingatlah),
ketika Musa berkata kepada kaumnya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu
menyembelih seekor sapi betina. Mereka berkata: Apakah kamu hendak menjadikan
kami buah ejekan? Musa menjawab: Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi
salah seorang dari orang-orang yang jahil. (QS. 2:67)
Mereka menjawab: Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami, agar dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu? Musa menjawab: Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi yang tidak tua dan tidak muda, pertengahan antara itu. Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. (QS. 2:68)
Mereka berkata: Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya. Musa menjawab: Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya. (QS. 2:69)
Mereka berkata: Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu). (QS. 2:70)
Musa berkata: Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya. Mereka berkata: Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya. Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu. (QS. 2:71)
Nama surat Al-Baqarah yang berarti sapi betina diambil karena dalam surat ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina.
Mereka menjawab: Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami, agar dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu? Musa menjawab: Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi yang tidak tua dan tidak muda, pertengahan antara itu. Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. (QS. 2:68)
Mereka berkata: Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya. Musa menjawab: Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya. (QS. 2:69)
Mereka berkata: Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu). (QS. 2:70)
Musa berkata: Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya. Mereka berkata: Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya. Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu. (QS. 2:71)
Nama surat Al-Baqarah yang berarti sapi betina diambil karena dalam surat ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina.
Dapat dilihat pada
ayat-ayat tsb bahwa sikap Bani Israil yang cerewet justru telah menyulitkan
mereka sendiri. Seandainya ketika diperintahkan pertama kali mereka langsung
melaksanakannya, tentulah mereka tidak akan repot, tetapi mereka malah mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang rumit sehingga hampir saja mereka tidak dapat
menemukan sapi sesuai ciri-ciri yang diterangkan oleh Musa.
Begitu sapi sudah
diperoleh, mereka lalu menyembelihnya dan lidah sapi itu dipukulkan ke tubuh
mayat orang yang terbunuh. Seketika itu ia menjadi hidup kembali dan
menceritakan bahwa ia telah dibunuh oleh sepupunya sendiri.
Allah mengharamkan
tanah Palestina bagi Bani Israil
Allah SWT memerintahkan Nabi Musa AS membawa kaumnya ke Palestina, tempat suci yang telah dijanjikan bagi Nabi Ibrahim AS sebagai tempat tinggal anak cucunya. Bani Israil yang telah mendapat berbagai karunia dari Allah SWT adalah kaum yang keras kepala dan tidak bersyukur.
Allah SWT memerintahkan Nabi Musa AS membawa kaumnya ke Palestina, tempat suci yang telah dijanjikan bagi Nabi Ibrahim AS sebagai tempat tinggal anak cucunya. Bani Israil yang telah mendapat berbagai karunia dari Allah SWT adalah kaum yang keras kepala dan tidak bersyukur.
Sebelum mengajak
kaumnya berhijrah, Musa mengutus perintis jalan untuk menyelidiki tentang
penduduk penghuni Palestina. Ketika kembali, para perintis jalan itu
mengabarkan bahwa tanah suci tsb dihuni oleh suku Kana'an yang kuat-kuat, dan
kota-kotanya memiliki benteng yang kokoh. Mengetahui hal itu, merasa gentarlah
Bani Israil dan tidak mau mematuhi perintah Musa untuk menyerang. Mereka hanya
mau kesana jika suku itu telah disingkirkan terlebih dahulu.
Nabi Musa AS sangat
marah terhadap sikap kaumnya itu, karena sikap tsb mencerminkan bahwa mereka
belum benar-benar beriman kepada Allah SWT, padahal Allah SWT telah berjanji
bahwa dengan pertolongan-Nya mereka akan mampu mengalahkan suku Kana'an. Di
antara Bani Israil itu, ada 2 orang bertakwa yang menasihati mereka agar masuk
dari pintu kota supaya mereka bisa menang. Akan tetapi Bani Israil menolak
nasihat itu dan melontarkan kepada Musa kalimat yang menunjukkan pembangkangan
dan sifat pengecut, "Pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah,
sementara kami menunggu di sini."
Habislah kesabaran
Musa. Ia lalu memanjatkan doa agar Allah SWT memberikan putusan-Nya atas sikap
kaumnya. Sebagai hukuman bagi Bani Israil yang menolak perintah Allah SWT,
Allah SWT mengharamkan wilayah Palestina selama 40 tahun bagi mereka. Mereka
akan tersesat, padahal tanah yang dijanjikan sudah ada di depan mata. Selama
itu mereka akan berkeliaran di muka bumi tanpa memiliki tempat bermukim yang
tetap.
Hal ini dikisahkan
dalam surat Al-Maidah: 20-26.
Pertemuan Musa dengan
orang saleh
Pada suatu kesempatan berkhutbah di hadapan kaumnya, Nabi Musa AS mengatakan bahwa dirinyalah yang paling pandai dan berpengetahuan. Allah SWT menegur sikapnya ini dan berfirman, "Sesungguhnya Aku mempunyai seorang hamba di tepi laut yang lebih pandai darimu."
Berkatalah Musa, "Wahai Tuhanku, apa yang harus kuperbuat untuk bertemu dengannya?"
Allah berfirman, "Ambillah seekor ikan kecil dan letakkan di dalam keranjang. Dimanapun engkau kehilangan ikan itu, maka disitulah ia berada."
Pada suatu kesempatan berkhutbah di hadapan kaumnya, Nabi Musa AS mengatakan bahwa dirinyalah yang paling pandai dan berpengetahuan. Allah SWT menegur sikapnya ini dan berfirman, "Sesungguhnya Aku mempunyai seorang hamba di tepi laut yang lebih pandai darimu."
Berkatalah Musa, "Wahai Tuhanku, apa yang harus kuperbuat untuk bertemu dengannya?"
Allah berfirman, "Ambillah seekor ikan kecil dan letakkan di dalam keranjang. Dimanapun engkau kehilangan ikan itu, maka disitulah ia berada."
Musa melaksanakan apa
yang telah diperintahkan Allah kepadanya. Ia mengambil seekor ikan kecil,
kemudian ia pergi dengan ditemani seorang sahayanya. Saat mereka tiba di
pertemuan antara dua buah laut, mereka duduk sejenak untuk beristirahat.
Tertidurlah mereka, sementara saat itu turun hujan sehingga ikan yang mereka
bawa dapat melompat dan meluncur ke laut.
Sahaya Musa
mengetahui hal ini, namun ia lupa memberitahukannya kepada Musa. Mereka terus
melanjutkan perjalanan. Ketika mereka merasa lapar dan hendak makan, saat
itulah sahaya Musa teringat akan ikan yang hilang itu, maka ia pun memberitahu
Musa. Mendengar itu Musa sangat gembira. "Inilah yang kita cari. Mari kita
kembali untuk mengikuti jejak dimana ikan itu hilang."
Belum sampai di
tempat yang dituju, Musa telah bertemu dengan orang yang dimaksud. Hamba Allah
SWT yang saleh itu dikenal dengan nama Nabi Khidir AS. Nabi Musa AS yang ingin
belajar dari hamba-Nya yang saleh itu meminta agar diizinkan mengikuti Nabi
Khidir. Nabi Khidir menjawab bahwa ia tidak akan dapat sabar atas
keikutsertaannya, karena ia akan melihat tindakan-tindakan yang bertentangan
dengan syariatnya. Namun Musa berkata bahwa ia akan bersabar dan tidak akan
menentang urusan Nabi Khidir. Akhirnya Nabi Khidir mengizinkan Musa untuk
mengikutinya, namun dengan syarat bahwa Musa tidak boleh mempertanyakan
tindakan-tindakan yang akan dilakukannya, karena pada akhirnya ia akan
menceritakan rahasia di balik tindakan-tindakannya itu.
Pergilah Musa bersama
Nabi Khidir menyusuri tepi laut. Tiba-tiba lewat di depan mereka sebuah kapal,
maka keduanya meminta kepada penumpang-penumpangnya untuk mengangkut mereka.
Mereka diizinkan menumpang, lalu keduanya pun naik ke kapal itu. Saat para
penumpang lengah, Nabi Khidir melubangi dinding kapal yang terbuat dari kayu
itu sedemikian rupa sehingga kerusakannya akan mudah untuk diperbaiki. Musa yang
melihat kejadian ini merasa ngeri dan tanpa sadar ia lupa dengan perjanjiannya
untuk tidak mengajukan pertanyaan apa pun, maka ia pun berkata, "Apakah
engkau merusak kapal orang-orang yang telah menghormati kita? Engkau telah
melakukan sesuatu yang tercela."
Nabi Khidir
mengingatkan kepada Musa akan perjanjian mereka, maka sadarlah Musa, ia meminta
supaya jangan dihukum atas kelupaannya ini. Keduanya lalu meneruskan perjalanan
dan bertemu dengan seorang anak yang sedang bermain bersama kawan-kawannya. Nabi
Khidir lalu membujuk anak itu ikut dengannya dan membawanya ke tempat yang agak
jauh dari teman-temannya, lalu ia membunuhnya. Panas hati Musa melihat
perbuatan yang keji ini sehingga dengan marah ia berkata, "Apakah engkau
membunuh jiwa yang suci bersih tanpa dosa? Engkau telah berbuat sesuatu yang
mungkar."
Nabi Khidir kembali mengingatkan Musa akan syarat yang berlaku antara keduanya. Musa menyesal atas ketidaksabarannya. Ia pun berkata, "Jika setelah ini aku bertanya lagi kepadamu, maka janganlah menemani aku, karena sudah cukup alasan bagiku untuk berpisah denganmu."
Nabi Khidir kembali mengingatkan Musa akan syarat yang berlaku antara keduanya. Musa menyesal atas ketidaksabarannya. Ia pun berkata, "Jika setelah ini aku bertanya lagi kepadamu, maka janganlah menemani aku, karena sudah cukup alasan bagiku untuk berpisah denganmu."
Kemudian keduanya pun
meneruskan perjalanan kembali. Saat merasa haus dan lapar, masuklah mereka ke
sebuah desa. Mereka meminta kepada penghuninya supaya bersedia memberi mereka
makan dan menjadikan mereka sebagai tamu, namun permintaan mereka ini ditolak
dengan kasar oleh penghuni desa tsb.
Dalam perjalanan pulang, mereka mendapati sebuah dinding yang hampir roboh. Nabi Khidir lalu memperbaiki dinding yang roboh itu dan mendirikan bangunannya. Melihat ini, Musa tidak tahan lalu bertanya, "Apakah engkau mau membalas orang-orang yang telah mengusir kita dengan memperbaiki dinding rumah mereka? Andaikata engkau kehendaki, engkau bisa meminta upah atas pekerjaanmu untuk membeli makanan."
Dalam perjalanan pulang, mereka mendapati sebuah dinding yang hampir roboh. Nabi Khidir lalu memperbaiki dinding yang roboh itu dan mendirikan bangunannya. Melihat ini, Musa tidak tahan lalu bertanya, "Apakah engkau mau membalas orang-orang yang telah mengusir kita dengan memperbaiki dinding rumah mereka? Andaikata engkau kehendaki, engkau bisa meminta upah atas pekerjaanmu untuk membeli makanan."
Dengan timbulnya
pertanyaan Musa ini, maka berpisahlah ia dengan Nabi Khidir. Namun sebelum
berpisah, Nabi Khidir menjelaskan rahasia-rahasia perbuatannya. Ia berkata,
"Mengenai kapal yang aku lubangi dindingnya, itu adalah kepunyaan beberapa
orang miskin yang tidak punya harta selain itu, dan aku mengetahui bahwa ada
seorang raja yang suka merampas setiap kapal yang baik dari pemiliknya. Sebab
itu aku merusaknya sedikit supaya nantinya mudah diperbaiki lagi, dan bila raja
melihatnya ia pun menduga kapal itu adalah kapal yang buruk sehingga ia akan
membiarkannya pada pemiliknya dan selamatlah kapal itu pada mereka.
Mengenai anak kecil yang aku bunuh, ia adalah seorang anak yang menampakkan tanda-tanda kerusakan sejak kecil, sedang kedua orangtuanya adalah orang-orang yang beriman dan saleh. Aku khawatir rasa kasih sayang orangtua terhadap anaknya akan membuat mereka menyeleweng dari kesalehan mereka dan menjerumuskannya ke dalam kekafiran dan kesombongan, maka aku pun membunuhnya untuk menenangkan kedua orangtua yang beriman ini, dan anak yang jahat itu semoga akan diberi gantinya oleh Allah SWT dengan anak yang lebih baik dan lebih berbakti serta lebih sayang kepada kedua orangtuanya.
Adapun dinding rumah yang kudirikan, itu adalah milik dua anak yatim di kota itu yang di bawahnya terdapat harta terpendam kepunyaan mereka, dan ayah mereka adalah seorang yang saleh. Maka Tuhanmu yang Maha Pemurah ingin menjaga harta itu bagi mereka sampai mereka dewasa dan mengeluarkannya.
Semua yang kuperbuat itu bukanlah atas usahaku, melainkan itu adalah wahyu dari Allah SWT. Dan inilah penjelasan dari kejadian-kejadian yang mana engkau tidak bisa bersabar."
Mengenai anak kecil yang aku bunuh, ia adalah seorang anak yang menampakkan tanda-tanda kerusakan sejak kecil, sedang kedua orangtuanya adalah orang-orang yang beriman dan saleh. Aku khawatir rasa kasih sayang orangtua terhadap anaknya akan membuat mereka menyeleweng dari kesalehan mereka dan menjerumuskannya ke dalam kekafiran dan kesombongan, maka aku pun membunuhnya untuk menenangkan kedua orangtua yang beriman ini, dan anak yang jahat itu semoga akan diberi gantinya oleh Allah SWT dengan anak yang lebih baik dan lebih berbakti serta lebih sayang kepada kedua orangtuanya.
Adapun dinding rumah yang kudirikan, itu adalah milik dua anak yatim di kota itu yang di bawahnya terdapat harta terpendam kepunyaan mereka, dan ayah mereka adalah seorang yang saleh. Maka Tuhanmu yang Maha Pemurah ingin menjaga harta itu bagi mereka sampai mereka dewasa dan mengeluarkannya.
Semua yang kuperbuat itu bukanlah atas usahaku, melainkan itu adalah wahyu dari Allah SWT. Dan inilah penjelasan dari kejadian-kejadian yang mana engkau tidak bisa bersabar."
Kisah pertemuan Nabi
Musa AS dan Nabi Khidir AS ini terdapat dalam surat Al-Kahfi: 60-82.
Kisah Qarun dan
hartanya
Tersebutlah seorang pengikut Nabi Musa AS yang sangat kaya, yang bernama Qarun. Meskipun sangat kaya, namun ia tidak mau menyedekahkan hartanya bagi fakir miskin. Nasihat-nasihat Nabi Musa AS tidak dipedulikannya, bahkan ia mengejek dan memfitnah Nabi Musa AS.
Tersebutlah seorang pengikut Nabi Musa AS yang sangat kaya, yang bernama Qarun. Meskipun sangat kaya, namun ia tidak mau menyedekahkan hartanya bagi fakir miskin. Nasihat-nasihat Nabi Musa AS tidak dipedulikannya, bahkan ia mengejek dan memfitnah Nabi Musa AS.
Guna memberi
pelajaran pada Qarun dan memberi contoh pada kaumnya, Musa memanjatkan doa agar
Allah SWT menurunkan azabnya pada diri hartawan itu. Allah SWT lalu memberi
azab dengan menguburkan semua harta kekayaan beserta diri Qarun melalui bencana
tanah longsor yang dahsyat.
Kisah Qarun dan hartanya ini terdapat dalam surat Al-Qasas: 76-82.
Kisah Qarun dan hartanya ini terdapat dalam surat Al-Qasas: 76-82.
Larangan hari sabath
Sesuai dengan syariat dalam Taurat, Nabi Musa menentukan hari Sabtu sebagai hari untuk berkumpul dan beribadah. Pada hari itu kaum Bani Israil dilarang untuk melakukan usaha apa pun, termasuk berniaga dan mencari ikan. Namun pada hari Sabtu tsb justru ikan-ikan sangat banyak terlihat di laut.
Sesungguhnya ini merupakan kehendak Allah SWT untuk menguji keimanan dan ketaatan Bani Israil. Ternyata mereka tidak tahan dengan ujian ini dan melanggar larangan hari Sabath, oleh sebab itu Allah kemudian mengutuk sebagian mereka menjadi kera.
Hal ini disebutkan dalam surat Al-Baqarah: 65 dan Al-A'râf: 166
Sesuai dengan syariat dalam Taurat, Nabi Musa menentukan hari Sabtu sebagai hari untuk berkumpul dan beribadah. Pada hari itu kaum Bani Israil dilarang untuk melakukan usaha apa pun, termasuk berniaga dan mencari ikan. Namun pada hari Sabtu tsb justru ikan-ikan sangat banyak terlihat di laut.
Sesungguhnya ini merupakan kehendak Allah SWT untuk menguji keimanan dan ketaatan Bani Israil. Ternyata mereka tidak tahan dengan ujian ini dan melanggar larangan hari Sabath, oleh sebab itu Allah kemudian mengutuk sebagian mereka menjadi kera.
Hal ini disebutkan dalam surat Al-Baqarah: 65 dan Al-A'râf: 166
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih anda telah memberi komentar